Jumat, 26 Agustus 2011

Tradisi Lebaran di Berbagai Negara


Tradisi Lebaran di Berbagai Negara


Quantcast
Mesir
Ketika hari Lebaran tiba, anak-anak Mesir menyanyi lagu Ahlan wa sahlan bi al-‘id. Farhan, farhan bi al-id (Selamat datang, selamat datang Hari Raya. Bergembiralah, bergembiralah pada hari raya).
Di Mesir, Idul Fitri tidak disambut semeriah di Indonesia. Karena itu, Idul Fitri sering disebut Id el-Shogayar atau Hari Raya Kecil, sedangkan Idul Adha disebut Idul Kabir (Hari Raya Besar), karena dirayakan jauh lebih meriah.

Meskipun demikian Idul Fitri di Mesir tetap menjadi perayaan kegembiraan yang cukup menarik disimak. Anak-anak kecil bermain-main dan meluapkan kegembiraan dengan baju-baju baru mereka. Makanan khas pada hari lebaran ini berupa biskuit manis yang disebut kahk.

Indonesia
Perayaan Idul Fitri atau Lebaran di Indonesia sangat khas. Ini, misalnya, terlihat dari masa persiapannya berupa pakai baju baru dan mudik (pulang kampung) bagi para perantau. Lalu, ada takbir akbar pada hari terakhir puasa, takbiran keliling dengan kendaraan terbuka, pemukulan bedug, Shalat Id di masjid atau lapangan, dan acara silaturrahmi dengan halal bi halal antar sesama kerabat .
Makanan khusus pun ikut meramaikan suasana Idul Fitri di rumah-rumah orang muslim di Indonesia. Di samping tersaji kue-kue kering, ada pula makanan-makanan khas seperti ketupat, lontong, rendang, sayur lodeh, opor ayam, dan berbagai masakan atau makanan khas daerah lainnya. Makanan-makanan ini disajikan kepada semua tamu yang datang bersilaturrahmi, baik kerabat ataupun bukan.
Singapore, Brunei Darussalam, dan Malaysia
Di Malingshit, Singapura, dan Brunei Darussalam, hari lebaran juga dinamai dengan hari raya Aidil Fitri. Di kampung-kampung, masyarakat menyulut pelita (obor) dan mudik lebaran dari kota ke desa juga merupakan hal yang lumrah, dinamakan balik kampung. Ucapan lebaran yang jamak di ketiga negara tersebut adalah “mohon maaf zahir dan batin” atau “Salam Aidil Fitri”.
Makanan khas lebaran adalah ketupat, dodol dan lemang. Laki-laki mengenakan baju Melayu lengkap dengan peci, sementara para wanita mengenakan baju kurung. Di Malingshit, kunjungan ke kuburan orang tua kemudian membacakan Surat Yasin adalah hal yang jamak dilakukan di hari lebaran, kemudian dilanjutkan dengan silaturahmi ke kerabat.
India, Pakistan, Bangladesh
Di India, Pakistan, dan Bangladesh, malam terakhir bulan puasa kerap disebut Chand Raat (malam bulan). Penduduk akan memenuhi mal atau pusat-pusat pembelanjaan untuk membeli baju baru, guna dikenakan pada hari Chand Raat atau Idul Fitri itu.
Pada hari lebaran, para wanita ketiga negara di kawasan Asia Selatan itu akan mengecat tangan mereka dengan henna (inai) dan mengenakan pakaian yang warna-warni. Ucapan yang paling populer pada saat lebaran adalah “Eid Mubarak”, di mana para orang tua biasanya memberikan eidi (uang atau angpao) kepada anak-anak kerabat atau cucunya.
Usai Shalat Id yang disebut Eidgah, mereka biasanya melaksanakan acara kumpul-kumpul dengan sesama anggota keluarga dan kaum kerabat sambil makan-makan. Makanan yang paling banyak tersedia bernama sivayyan, berupa mie vermicelli. Setelah berkumpul dan nyekar, perayaan dilanjutkan dengan festival khusus, berupa karnaval dan kembang api.
Turki
Lebaran di Turki dikenal dengan istilah Bayram, dan ucapan khas lebaran adalah Bayraminiz Kutlu Olsun atau Bayraminiz Mübarek Olsun (Semoga bayram-mu menjadi berkah). Perayaan besar ditandai dengan silaturahmi, mengenakan baju baru dan saling mengunjungi. Bahkan, acara nyekar lebih semarak di sini, ditandai dengan pasar bunga untuk nyekar selama tiga hari berturut-turut.
Jika di Indonesia dikenal sungkem, di Turki hal ini dilakukan dengan orang tua mencium tangan kanannya lalu kemudian dipegangkan di dahi anaknya sambil mengucap doa lebaran. Selain zakat fitrah, penggalangan dana bagi kaum miskin dilakukan lewat acara sosial dan pertunjukan hiburan.
Iran
Meski Iran termasuk negara Islam, namun perayaan Idul Fitri tampak biasa-biasa saja dan tidak semeriah seperti Indonesia atau negara-negara di kawasan Asia Tenggara lainnya. Karena muslim Iran adalah pengikut ajaran Syiah, Idul Fitri di Iran adalah perayaan personal dan kurang semarak.
Dihiasi dengan Shalat Id berjamaah di masjid dan lapangan kemudian dilanjutkan dengan acara silaturahmi keluarga. Acara ditutup dengan pemberian makanan dari keluarga kaya kepada yang papa.
Cina
Di Cina yang menganut sistem politik komunis, perayaan Idul Fitri bagi para umat muslim setempat, tampak tetap meriah. Di Xinjiang, misalnya, pada pagi hari Idul Fitri sekitar 1.000 muslim setempat melakukan Shalat Id. Para pria mengenakan jas khas dan kopiah putih, dan para wanita mengenakan baju hangat dan kerudung setengah tutup.
Pesta makan diisi dengan masak besar untuk seluruh jamaah yang hadir diikuti dengan makan bersama. Acara kemudian dilanjutkan dengan saling mengunjungi kerabat dan silaturahmi. Acara juga diisi dengan bersih-bersih makam dan pembacaan doa di makam kerabat.
USA
Di Amerika Serikat, perayaan lebaran tampak tidak semeriah di negara-negara lain di dunia. Bahkan, karena Idul Fitri bukan hari libur nasional, terkadang umat muslim di negara Paman Sam ini, tidak tahu kapan masuknya hari Idul Fitri.
Biasanya, hari lebaran diberitahukan oleh komunitas muslim setempat melalui sarana telekomunikasi, seperti telepon maupun internet berupa email atau website. Mereka yang sudah mendapat kabar masuknya tanggal 1 Syawal, biasanya akan bangun pagi-pagi, sarapan kemudian berangkat ke masjid, ballroom hotel atau lapangan untuk Shalat Id.
Pakaian yang dikenakan terkadang beragam sesuai asal pemakainya (mayoritas muslim di sana adalah imigran). Selesai shalat, dilanjutkan dengan saling mengucapkan Happy Eid atau Eid Mubarak antarsesama jemaah Shalat Id, para kenalan dekat dan kaum kerabat
Eropa
Rata-rata perayaan lebaran di negara-negara Eropa yang memiliki komunitas muslim sedikit sangat jauh dari kemeriahan. Karena Idul Fitri bukanlah hari libur resmi, maka muslim di negara ini harus tetap bekerja atau sekolah sebagaimana hari biasanya. Muslim akan berusaha mengambil cuti di hari ini supaya tetap bisa mengikuti Shalat Id dan berkumpul dengan sesama muslim di masjid, kemudian berkumpul bersama keluarga di rumah.
Meskipun tradisi dan kemeriahan menyambut lebaran atau hari raya Idul Fitri, berbeda antara satu negara dengan negara lainnya atau satu tempat dengan tempat lainnya, namun yang pasti esensi memperingati atau merayakan Idul Fitri adalah sama. Yakni, membuka kesucian diri dan merayakan kemenangan melawan nafsu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar